LAPORAN
PERTUNJUKAN
KARYA
SENI KARAWITAN TRADISIONAL DAN KARYA SENI
KARAWITAN
MODREN DI INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA
Laporan Ini Disusun Guna Memenuhi
Tugas Mata Kuliah Karya Seni Karawitan.
Pengampu: Bapak Waluyo
Disusun
Oleh:
Kukuh Prasetya Arief Wicaksana ( A510120100 )
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
Seni
di Indonesia begitu banyak salah sataunya adalah seni karawitan, seni karawitan
tidak hanya berasal
dari
pulau Jawa saja akan tetapi juga berasal
dari
wilayah Indonesia lainnya seperti di Sumbawa, di Dayak (Kalimantan), di Flores
dan daerah lainnya di Indonesia. Karawitan sendiri berasal dari kata rawit yang
berarti halus, indah dan rumit. Jadi karawitan adalah hasil ciptaan manusia
yang mengeskpreaasikan seni bunyi lewat alat-alat musik sehingga terbentuklah
bunyi-bunyian yang indah dan halus.
Daya
pikat yang dimiliki oleh karawitan terletak pada keragaman bunyi yang
dikeluarkan, hal tersebut dikarenakan alat musik yang dipakai dalam seni
karawitan ini tidak hanya satu atau dua alat musik, tetapi banyak alat musik
yang digunakan. Alat musik yang digunakan dalam seni karawitan ini disebut
dengan gamelan, gamelan tersebut terdiri dari kendang, gong, kenong, rebab,
bonang, siter dan lain-lain. Dari berbagi alat tersebut penggunaanya berbeda
ada yang dipukul, dipetik, digesek dan lain sebagainya.
Seni
karawita merupakan jurusan seni yang berada di sekolah atau instintut seni yang
ada di Indonesia. Salah satunya di ISI Surakarta (Instintut Seni Indonesia).
Jurusan ini mempelajari tentang bagaimana cara memainkan alat music
tradisional. Selama pendidikannya mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikannya
harus melakukan ujian Tugas
Akhir. Mahasiswa Institut Seni Indonesia ini dituntut untuk menciptakan sebuah
karya seni yang komposisinya mereka sendiri yang membuatnya. Hal ini sangat
bermanfaat bagi mengembangkan kekreatifan dari para mahasiswa untuk menciptakan
sesuatu yang berbeda, yang dapat menarik perhatian penonton mupun menarik
perhatian dari para dosen penguji. Pertunjukan tersebut diadakan di sebuah
gedug pertunjukan yang ada di ISI, gedung pertunjukan yang dipakai ini belum
semua institut memilikinya. Alat-alat atau fasilitas yang ada di gedung pertunjukan
ini sudah cukup memadai mulai dari tata pencahayaannya, tata ruang dalam
panggung, tempat duduk bagi para penonton, dan sebagainya. Karena fasilitas
yang sudah cukup memadai tersebut, membuat para penonton merasa seperti melihat
pertunjukan yang berkelas nasional.
Dalam
pertunjukan karawitan tersebut penampilannya ada dua sesion, sesi yang pertama
yaitu pertunjukan yang dibawakan bagi mereka yang mengambil pertunjukan
karawitan tradisional. Pertunjukan yang pertama
dilaksanakan pada tanggal 3-4 April
2014, pada tanggal ini diadakan pertunjukan seni karawitan versi
tradisional. Dalam pertunjukannya disini ada yang disebut dengan penyaji,
penyaji disini adalah seseorang yang memimpin jalannya sebuah permainan gamelan
atau jalannya sebuah gending yang akan dinyanyikan.
Penyaji
tersebut merupakan mahasiswa yang sedang menjalani ujian, dengan dibantu dengan
personil dari sebuah sanggar maka pertunjukannya pun berjalan sesuai
dengan yang diharapkan. Alat yang
digunakan dalam karawitan tradisional ini adalah seperangkat gamelan ageng.
Gamelan ageng disini contohnya yaitu kenong, kempul, bonang, gong, rebab,
gender, saron, kendang, dan lain-lain.
Sedangkan dalam pertunjukan pada 16 April 2014 menampilkan beberapa
mahasiswa dengan karyanya yang luar biasa, karya yang paling saya sukai
diantaranya “Lewat Belakang” karya dari Udin Tri Cahyo, “Kasmaran” karya dari
Toni Prabowo, “Randha” karya dari Kukuh dan “Trenyuh” karya dari Jasno.
Udin
Tri Cahyo dengan karyanya yang berjudul lewat belakang. Inti cerita dari dari
karya ini adalah terjadinya fenomena kesenjangan diantara masyarakat yang
sangat mencolok, dimana orang yang tidak punya menjadi budak sedangkan orang
yang kaya menjadi penjajah bagi orang yang tidak mampu. Dalam penampilannya
dimainkan oleh enam orang pemain dengan menggunakan cotum ala penjabat dan
orang pinggiran atau pakaian seorang petani. Karya ini sangat memikat dan
memukau para penonton karena cerita yang disampaikan lewat karya ini sangat
mendalam. Karya ini sangat-sangat menggambarkan kehidupan masyarakat di
Indonesia sehingga saat melihat pertunjukan ini hati terasa teriris-iris. Dalam
penyampaiannya lewat lagu dan adegan yang mencekam. Makna dari menggiling drum
diiringi dengan orang yang menbawa api adalahmembasmi dan memengalpara koruptor.
Karya
selanjutnya adalah karya dari Toni Prabowo yang berjudul “Kasmaran”, dari judul
ini menjelaskan bahwa ada seseorang yang sedang dilanda rasa sayang terhadap
teman lawan jenisnya. Meskipun orang yang disukai tersebut telah menyakitinya
berulangkali tetapi orang tersebut tetap tulus mencintainya dengan sepenuh
hati. Walaupun juga yang disukai sudah mempunyai tambatan tetapi tetap
mencintai dalam diamnya, memendamnya dalam-dalam. mendoakan yang disukai agar
selalu diberi kebahagiaan dengan wanita pilihannya, karena cinta memiliki.
Dalam penyajian karya ini menggunakan berbagi alat musik, baik alat musik
tradisional maupun alat musik modren. Alat musik tradisional yang digunakan
antara lain seperti gong, kenong, kempul, suling, saron, alat musik modren yang
dignakan dalam penyajian ini yatu biola dan jimbe. Dengan suara biola yang
mendayu-dayu dapat membuat para penonton ikut merasakan apa yang dirasakan oleh
orang yang sedang kasmaran. Apalagi yang sedang dirundung perasaan suka pada
lawan jenisnya maka akan lebih terhanyut pada suasana yang diciptakan oleh para
penyaji.
karya
dari Kukuh yang berjudul ”Randha”, karya ini mengisahkan tentang kehidupan
seorang randha dalam kehidupan masyarakat. Dimainkan oleg enam pemain
diantarabya lima laki-laki dan satu perempuan. Dalam penyajiannya karya ini
menggunakan berbagai alat musik seperti kendang, seruling, kecapi, saron,
gambang, kenong, rebab, dan ada satu alat di dalam kehidupan sehari-hari yang
digunakan yaitu tong. Dalam pertunjukan disampaikan dua lagu yang mengisahkan
kehidupan seorang randha. Lagu pertama mengisahkan hidup seorang randha yang
harus berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, sedangkan lagu yang kedua
mengisahkan derita hidup seorang randha yang dipandang sebelah mata oleh para
lelaki. Karya ini sangat bagus karena dapat member penjelasan atau penegasan
bahwa seorang randha itu tidak boleh dipandang sebelah mata saja.
Untuk
karya yang terakhir berjudul “Trenyuh”, dari judulnya saja sudah dapat dilihat
bahwa karya ini menggambarkan bahwa ada seseorang yang merasa simpati terhadap
sesuatu yang menyedihkan atau membuat orang lain terharu. Tidak hanya alat
musik tradisional saja yang digunakan dalam penyajian karya tersebut, tetapi
juga menggunakan kendi(tempat air minum yang berasal dari tanah liat), dan juga
menggunakan bambu yang telah diisi oleh air. Pembukaan dari karya ini diawali
dengan rebab. Suara dari rebab yang mendayu-dayu tersebut bisa menghipnotis
para penonton, sehingga penonton seakan-akan bisa merasakan dan melihat seolah
ada kejadian di depan mata mereka yang membuat mereka merasa terharu, sedih,
serta merasa seperti mengalami hal tersebut. Dalam penampilanya dimainkan oleh
lima orang pemain, yang menggunakan latar panggung yang klasik, dimana
penataannya sangat bagus sesuai dengan cerita yang disampaikan lewat lagunnya.