Selasa, 20 Mei 2014

laporan pertunjukan seni karawitan, ISI Surakarta



LAPORAN PERTUNJUKAN
KARYA SENI KARAWITAN TRADISIONAL DAN KARYA SENI
KARAWITAN MODREN DI INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA

Laporan Ini Disusun Guna Memenuhi
Tugas Mata Kuliah Karya Seni Karawitan.
Pengampu: Bapak Waluyo




  

Disusun Oleh:
Kukuh Prasetya Arief Wicaksana ( A510120100 )

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014




Seni di Indonesia begitu banyak salah sataunya adalah seni karawitan, seni karawitan tidak hanya berasal dari pulau Jawa saja akan tetapi juga berasal dari wilayah Indonesia lainnya seperti di Sumbawa, di Dayak (Kalimantan), di Flores dan daerah lainnya di Indonesia. Karawitan sendiri berasal dari kata rawit yang berarti  halus, indah dan rumit. Jadi karawitan adalah hasil ciptaan manusia yang mengeskpreaasikan seni bunyi lewat alat-alat musik sehingga terbentuklah bunyi-bunyian yang indah dan halus.
Daya pikat yang dimiliki oleh karawitan terletak pada keragaman bunyi yang dikeluarkan, hal tersebut dikarenakan alat musik yang dipakai dalam seni karawitan ini tidak hanya satu atau dua alat musik, tetapi banyak alat musik yang digunakan. Alat musik yang digunakan dalam seni karawitan ini disebut dengan gamelan, gamelan tersebut terdiri dari kendang, gong, kenong, rebab, bonang, siter dan lain-lain. Dari berbagi alat tersebut penggunaanya berbeda ada yang dipukul, dipetik, digesek dan lain sebagainya.
Seni karawita merupakan jurusan seni yang berada di sekolah atau instintut seni yang ada di Indonesia. Salah satunya di ISI Surakarta (Instintut Seni Indonesia). Jurusan ini mempelajari tentang bagaimana cara memainkan alat music tradisional. Selama pendidikannya mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikannya harus melakukan ujian Tugas Akhir. Mahasiswa Institut Seni Indonesia ini dituntut untuk menciptakan sebuah karya seni yang komposisinya mereka sendiri yang membuatnya. Hal ini sangat bermanfaat bagi mengembangkan kekreatifan dari para mahasiswa untuk menciptakan sesuatu yang berbeda, yang dapat menarik perhatian penonton mupun menarik perhatian dari para dosen penguji. Pertunjukan tersebut diadakan di sebuah gedug pertunjukan yang ada di ISI, gedung pertunjukan yang dipakai ini belum semua institut memilikinya. Alat-alat atau fasilitas yang ada di gedung pertunjukan ini sudah cukup memadai mulai dari tata pencahayaannya, tata ruang dalam panggung, tempat duduk bagi para penonton, dan sebagainya. Karena fasilitas yang sudah cukup memadai tersebut, membuat para penonton merasa seperti melihat pertunjukan yang berkelas nasional.
Dalam pertunjukan karawitan tersebut penampilannya ada dua sesion, sesi yang pertama yaitu pertunjukan yang dibawakan bagi mereka yang mengambil pertunjukan karawitan tradisional. Pertunjukan yang pertama  dilaksanakan pada tanggal 3-4 April 2014, pada tanggal ini diadakan pertunjukan seni karawitan versi tradisional. Dalam pertunjukannya disini ada yang disebut dengan penyaji, penyaji disini adalah seseorang yang memimpin jalannya sebuah permainan gamelan atau jalannya sebuah gending yang akan dinyanyikan.
Penyaji tersebut merupakan mahasiswa yang sedang menjalani ujian, dengan dibantu dengan personil dari sebuah sanggar maka pertunjukannya pun berjalan sesuai dengan  yang diharapkan. Alat yang digunakan dalam karawitan tradisional ini adalah seperangkat gamelan ageng. Gamelan ageng disini contohnya yaitu kenong, kempul, bonang, gong, rebab, gender, saron, kendang, dan lain-lain.
Sedangkan dalam pertunjukan pada 16 April 2014 menampilkan beberapa mahasiswa dengan karyanya yang luar biasa, karya yang paling saya sukai diantaranya “Lewat Belakang” karya dari Udin Tri Cahyo, “Kasmaran” karya dari Toni Prabowo, “Randha” karya dari Kukuh dan “Trenyuh” karya dari Jasno.
Udin Tri Cahyo dengan karyanya yang berjudul lewat belakang. Inti cerita dari dari karya ini adalah terjadinya fenomena kesenjangan diantara masyarakat yang sangat mencolok, dimana orang yang tidak punya menjadi budak sedangkan orang yang kaya menjadi penjajah bagi orang yang tidak mampu. Dalam penampilannya dimainkan oleh enam orang pemain dengan menggunakan cotum ala penjabat dan orang pinggiran atau pakaian seorang petani. Karya ini sangat memikat dan memukau para penonton karena cerita yang disampaikan lewat karya ini sangat mendalam. Karya ini sangat-sangat menggambarkan kehidupan masyarakat di Indonesia sehingga saat melihat pertunjukan ini hati terasa teriris-iris. Dalam penyampaiannya lewat lagu dan adegan yang mencekam. Makna dari menggiling drum diiringi dengan orang yang menbawa api adalahmembasmi dan memengalpara koruptor.
Karya selanjutnya adalah karya dari Toni Prabowo yang berjudul “Kasmaran”, dari judul ini menjelaskan bahwa ada seseorang yang sedang dilanda rasa sayang terhadap teman lawan jenisnya. Meskipun orang yang disukai tersebut telah menyakitinya berulangkali tetapi orang tersebut tetap tulus mencintainya dengan sepenuh hati. Walaupun juga yang disukai sudah mempunyai tambatan tetapi tetap mencintai dalam diamnya, memendamnya dalam-dalam. mendoakan yang disukai agar selalu diberi kebahagiaan dengan wanita pilihannya, karena cinta memiliki. Dalam penyajian karya ini menggunakan berbagi alat musik, baik alat musik tradisional maupun alat musik modren. Alat musik tradisional yang digunakan antara lain seperti gong, kenong, kempul, suling, saron, alat musik modren yang dignakan dalam penyajian ini yatu biola dan jimbe. Dengan suara biola yang mendayu-dayu dapat membuat para penonton ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang sedang kasmaran. Apalagi yang sedang dirundung perasaan suka pada lawan jenisnya maka akan lebih terhanyut pada suasana yang diciptakan oleh para penyaji.
karya dari Kukuh yang berjudul ”Randha”, karya ini mengisahkan tentang kehidupan seorang randha dalam kehidupan masyarakat. Dimainkan oleg enam pemain diantarabya lima laki-laki dan satu perempuan. Dalam penyajiannya karya ini menggunakan berbagai alat musik seperti kendang, seruling, kecapi, saron, gambang, kenong, rebab, dan ada satu alat di dalam kehidupan sehari-hari yang digunakan yaitu tong. Dalam pertunjukan disampaikan dua lagu yang mengisahkan kehidupan seorang randha. Lagu pertama mengisahkan hidup seorang randha yang harus berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, sedangkan lagu yang kedua mengisahkan derita hidup seorang randha yang dipandang sebelah mata oleh para lelaki. Karya ini sangat bagus karena dapat member penjelasan atau penegasan bahwa seorang randha itu tidak boleh dipandang sebelah mata saja.
Untuk karya yang terakhir berjudul “Trenyuh”, dari judulnya saja sudah dapat dilihat bahwa karya ini menggambarkan bahwa ada seseorang yang merasa simpati terhadap sesuatu yang menyedihkan atau membuat orang lain terharu. Tidak hanya alat musik tradisional saja yang digunakan dalam penyajian karya tersebut, tetapi juga menggunakan kendi(tempat air minum yang berasal dari tanah liat), dan juga menggunakan bambu yang telah diisi oleh air. Pembukaan dari karya ini diawali dengan rebab. Suara dari rebab yang mendayu-dayu tersebut bisa menghipnotis para penonton, sehingga penonton seakan-akan bisa merasakan dan melihat seolah ada kejadian di depan mata mereka yang membuat mereka merasa terharu, sedih, serta merasa seperti mengalami hal tersebut. Dalam penampilanya dimainkan oleh lima orang pemain, yang menggunakan latar panggung yang klasik, dimana penataannya sangat bagus sesuai dengan cerita yang disampaikan lewat lagunnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar